A.
Pengertian
Psikosomatis
Menurut
Dr. Kartini Kartono bahwa psikosomatisme adalah bentuk macam – macam penyakit
fisik yang di timbulkan oleh konflik – konflik psikis atau psikologis dan
kecemasan kronis.
Dan
juga psikosomatis adalah kegagalan sistem syaraf dan sistem fisik yang di
sebabkan oleh kecemasan – kecemasan, konflik – konflik psikis dan gangguan
mental.
Menurut
Gerald C. Davidson dkk psikosomatisme
adalah penyakit yang mencakup kerusakan tubuh.
Menurut
Sheila L. Videbeck istilah psikosomatisme mulai di gunakan untuk menyatakan
hubungan antara pikiran (psike) dan tubuh (soma) dalam keadaan sehat dan sakit.
Dari
bahasan ini dapat disimpulkan bahwa psikosomatisme diartikan sebagai gangguan
fisik yang disebabkan oleh keadaan emosi yang berlebihan dan kronis dalam
merespon tekanan – tekanan yang ada, seperti jantung berdebar – debar, sakit
maag, sakit kepala, sesak nafas dan lesu.
1.) Teori
Biologis
Respon
biologis terhadap stress merupakan bagian dari respon yang sehat dan rutin.
Kerusakan fisiologis hanya dapat terjadi bila respon biologis terhadap stress dapat
di aktifkan, atau bila proses counter –
regulatory tidak mengembalikan sistem tubuh ke kondisi sebelum stress dalam
waktu yang tidak lama.
Teori
Kelemahan Somatik. Faktor genetik,
penyakit yang pernah di derita sebelumnya, diet, dan sejenisnya dapat
mengganggu sister organ tertentu, yang kemudian menjadi lemah dan tidak
memiliki daya tahan terhadap stress.
Teori
Reaksi Spesifik. Telah ditemukan bahwa
setiap orang memiliki pola respon atau nomik terhadap stress yang bersifat
individual. Pada seseorang reaksinya dapat berupa detak jantung menjadi lebih cepat,
sedangkan bagi orang lain dapat berupa tarikan nafas yang lebih cepat, namun
tidak mengalami percepatan detak jantung (lacey, 1967).
Pemaparan
Jangka Panjang Pada Hormon Stress. Teori
ini lebih mutakhir berupaya menjelaskan fakta bahwa berbagai perubahan Biologis
yang di timbulkan oleh stress bersifat adaptif dalam jangka pendek contohnya
memobilisasi sumber daya energy dalam persiapan aktifitas fisik, namun
berbahaya dalam jangka panjang (McEwen, 1998).
2.) Teori
Psikologis
Berbagai
teori psikologi berupaya menjelaskan perkembangan berbagai macam gangguan
psikofisiologis dengan mempertimbangkan faktor – faktor seperti kondisi
emosional yang tidak disadari, karakteristik kepribadian, penilaian kognitif,
gaya coping tertentu terhadap stress.
Teori
Psikoanalisis. Teori psikoanalisis
berpendapat bahwa konflik-konflik tertentu dan kondisi emosional negative yang
terkait dengannya memicu terjadinya gangguan psikofisiologis.
B.
Gangguan
psikosomatik
Ada
beberapa gangguan psikosomatik biasanya digolongkan menurut organ yang terkena
yaitu :
Ø Gangguan
Kardiovaskular, penyakit pada jantung dan sistem sirkulasi darah. Penyakit
kardiovaskular menjadi penyebab hampir separuh dari total angka kematian di AS
setiap tahunnya. Contohnya: hipertensi, migren.
Ø Gangguan
pernafasan, penyakit yang mengganggu
sistem pernafasan. contohnya: sesak napas,
asma.
Ø Gangguan
kulit misalnya terjadinya pengeringan pada kulit.
Ø Gangguan
pencernaan sebagai
manifestasi gangguan psikosomatis paling sering terdapat dalam praktek, akan
tetapi penderita harus diperiksa betul untuk menyingkirkan penyebab
somatogenik. Misalnya: Muntah-muntah, diare, luka lambung, nafsu makan.
C.
Penyebab
terjadinya psikomatik
Ø Penyakit organik yang dulu pernah
diderita dapat menimbulkan predisposisi untuk timbulnya gangguan psikosomatis
pada bagian tubuh yang pernah sakit. Contoh : dulu pernah sakit disentri, lalu
kemudian dalam keadaan emosi tertentu timbullah keluhan pada saluran pencernaan.
Ø Tradisi keluarga dapat mengarahkan
emosi kepada fungsi tertentu. Misalnya bila menu dan diit selalu diperhatikan,
maka mungkin nanti sering mengeluh tentang lambung.
Ø Suatu emosi menjelma secara simbolik
elementer menjadi suatu gangguan badaniah tertentu. Misalnya bila seorang
cemas, maka timbul keluhan dari pihak jantung begitu juga sebaliknya, rasa
benci menimbulkan rasa muntah.
Ø Dapat ditentukan juga oleh
kebiasaan, anggapan dan kepercayaan masyarakat di sekitar. Misalnya anggapan
bahwa menopous menyebabkan wanita sakit, maka nanti ia mengeluh juga ketika
menopous.
D.
Cara
penanganannya
Menurut
Tebbets mengatakan bahwa ada 3 langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi
penyakit psikosomatis dan menghilangkan simtomnya melalui teknik uncovering
yaitu :
a.
Memori yang menyebabkan munculnya simtom harus dimunculkan dan dibawa ke level
pikiran sadar sehingga diketahui.
b.
Perasaan atau emosi yang berhubungan dengan memori ini harus kembali dialami
dan dirasakan oleh klien.
c.
Menemukan hubungan antara simtom dan memori. Harus terjadi pembelajaran pada
secara emosi atau pada level pikiran bawah sadar, sehingga memungkinkan
seseorang membuat keputusan, di masa depan, yang mana keputusannya tidak lagi
dipengaruhi oleh materi yang ditekan (repressed content) di pikiran bawah
sadar.
Kemudian terapi Perilaku yaitu Biofeedback ini
adalah terapi yang menerapkan teknik behavior dan banyak digunakan untuk
mngatasi psikosomatik. Terapi yang dikembangkan oleh Nead Miller ini didasari
oleh pemikiran bahwa berbagai respon atau reaksi yang dikendalikan oleh sistem
syaraf otonam sebenarnya dapat diatur sendiri oleh individu melalui operant
conditioning. Biofeedback mempergunakan instrumen sehingga individu dapat
mengenali adanya perubahan psikologis dan fisik pada dirinya dan kemudian
berusaha untuk mengatur reaksinya.
Misalnya seseorang penderita migrain atau sakit kepala.
Dengan menggunakan biofeedback, ia bisa berusaha untuk rileks pada saat
mendengan singal yang menunjukkan bahwa ada kontraksi otot atau denyutan
dikepala.
Penerapan teknik ini pada pasien dengan hipertensi,
aritmia jantung, epilepsy dan nyeri kepala tegangan telah memberikan hasil
terapetik yang membesarkan hati tetapi tidak menyakitkan.