Sabtu, 04 Juni 2016

Psikologi Abnormal (Psikosomatis)


A.        Pengertian Psikosomatis

Menurut Dr. Kartini Kartono bahwa psikosomatisme adalah bentuk macam – macam penyakit fisik yang di timbulkan oleh konflik – konflik psikis atau psikologis dan kecemasan kronis.

Dan juga psikosomatis adalah kegagalan sistem syaraf dan sistem fisik yang di sebabkan oleh kecemasan – kecemasan, konflik – konflik psikis dan gangguan mental.

Menurut Gerald C. Davidson dkk  psikosomatisme adalah penyakit yang mencakup kerusakan tubuh.

Menurut Sheila L. Videbeck istilah psikosomatisme mulai di gunakan untuk menyatakan hubungan antara pikiran (psike) dan tubuh (soma) dalam keadaan sehat dan sakit.

Dari bahasan ini dapat disimpulkan bahwa psikosomatisme diartikan sebagai gangguan fisik yang disebabkan oleh keadaan emosi yang berlebihan dan kronis dalam merespon tekanan – tekanan yang ada, seperti jantung berdebar – debar, sakit maag, sakit kepala, sesak nafas dan lesu.


1.) Teori Biologis

Respon biologis terhadap stress merupakan bagian dari respon yang sehat dan rutin. Kerusakan fisiologis hanya dapat terjadi bila respon biologis terhadap stress dapat di aktifkan, atau bila proses counter – regulatory tidak mengembalikan sistem tubuh ke kondisi sebelum stress dalam waktu yang tidak lama.

Teori Kelemahan Somatik. Faktor genetik, penyakit yang pernah di derita sebelumnya, diet, dan sejenisnya dapat mengganggu sister organ tertentu, yang kemudian menjadi lemah dan tidak memiliki daya tahan terhadap stress.

Teori Reaksi Spesifik. Telah ditemukan bahwa setiap orang memiliki pola respon atau nomik terhadap stress yang bersifat individual. Pada seseorang reaksinya dapat berupa detak jantung menjadi lebih cepat, sedangkan bagi orang lain dapat berupa tarikan nafas yang lebih cepat, namun tidak mengalami percepatan detak jantung (lacey, 1967).

Pemaparan Jangka Panjang Pada Hormon Stress. Teori ini lebih mutakhir berupaya menjelaskan fakta bahwa berbagai perubahan Biologis yang di timbulkan oleh stress bersifat adaptif dalam jangka pendek contohnya memobilisasi sumber daya energy dalam persiapan aktifitas fisik, namun berbahaya dalam jangka panjang (McEwen, 1998).



2.) Teori Psikologis

Berbagai teori psikologi berupaya menjelaskan perkembangan berbagai macam gangguan psikofisiologis dengan mempertimbangkan faktor – faktor seperti kondisi emosional yang tidak disadari, karakteristik kepribadian, penilaian kognitif, gaya coping tertentu terhadap stress.

Teori Psikoanalisis. Teori psikoanalisis berpendapat bahwa konflik-konflik tertentu dan kondisi emosional negative yang terkait dengannya memicu terjadinya gangguan psikofisiologis.



B.        Gangguan psikosomatik

Ada beberapa gangguan psikosomatik biasanya digolongkan menurut organ yang terkena yaitu :

Ø  Gangguan Kardiovaskular, penyakit pada jantung dan sistem sirkulasi darah. Penyakit kardiovaskular menjadi penyebab hampir separuh dari total angka kematian di AS setiap tahunnya. Contohnya: hipertensi, migren.

Ø  Gangguan pernafasan,  penyakit yang mengganggu sistem pernafasan. contohnya: sesak napas,  asma.

Ø  Gangguan kulit misalnya terjadinya pengeringan pada kulit.

Ø  Gangguan pencernaan sebagai manifestasi gangguan psikosomatis paling sering terdapat dalam praktek, akan tetapi penderita harus diperiksa betul untuk menyingkirkan penyebab somatogenik. Misalnya: Muntah-muntah, diare, luka lambung, nafsu makan.



C.        Penyebab terjadinya psikomatik

Ø  Penyakit organik yang dulu pernah diderita dapat menimbulkan predisposisi untuk timbulnya gangguan psikosomatis pada bagian tubuh yang pernah sakit. Contoh : dulu pernah sakit disentri, lalu kemudian dalam keadaan emosi tertentu timbullah keluhan pada saluran pencernaan.

Ø  Tradisi keluarga dapat mengarahkan emosi kepada fungsi tertentu. Misalnya bila menu dan diit selalu diperhatikan, maka mungkin nanti sering mengeluh tentang lambung.

Ø  Suatu emosi menjelma secara simbolik elementer menjadi suatu gangguan badaniah tertentu. Misalnya bila seorang cemas, maka timbul keluhan dari pihak jantung begitu juga sebaliknya, rasa benci menimbulkan rasa muntah.

Ø  Dapat ditentukan juga oleh kebiasaan, anggapan dan kepercayaan masyarakat di sekitar. Misalnya anggapan bahwa menopous menyebabkan wanita sakit, maka nanti ia mengeluh juga ketika menopous.



D.    Cara penanganannya

Menurut Tebbets mengatakan bahwa ada 3 langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi penyakit psikosomatis dan menghilangkan simtomnya melalui teknik uncovering yaitu :

a. Memori yang menyebabkan munculnya simtom harus dimunculkan dan dibawa ke level pikiran sadar sehingga diketahui.

b. Perasaan atau emosi yang berhubungan dengan memori ini harus kembali dialami dan dirasakan oleh klien.

c. Menemukan hubungan antara simtom dan memori. Harus terjadi pembelajaran pada secara emosi atau pada level pikiran bawah sadar, sehingga memungkinkan seseorang membuat keputusan, di masa depan, yang mana keputusannya tidak lagi dipengaruhi oleh materi yang ditekan (repressed content) di pikiran bawah sadar.



Kemudian terapi Perilaku yaitu Biofeedback ini adalah terapi yang menerapkan teknik behavior dan banyak digunakan untuk mngatasi psikosomatik. Terapi yang dikembangkan oleh Nead Miller ini didasari oleh pemikiran bahwa berbagai respon atau reaksi yang dikendalikan oleh sistem syaraf otonam sebenarnya dapat diatur sendiri oleh individu melalui operant conditioning. Biofeedback mempergunakan instrumen sehingga individu dapat mengenali adanya perubahan psikologis dan fisik pada dirinya dan kemudian berusaha untuk mengatur reaksinya.

Misalnya seseorang penderita migrain atau sakit kepala. Dengan menggunakan biofeedback, ia bisa berusaha untuk rileks pada saat mendengan singal yang menunjukkan bahwa ada kontraksi otot atau denyutan dikepala.

Penerapan teknik ini pada pasien dengan hipertensi, aritmia jantung, epilepsy dan nyeri kepala tegangan telah memberikan hasil terapetik yang membesarkan hati tetapi tidak menyakitkan.