Psikoanalisis adalah sebuah
model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia, dan metode
psikoterapi, berorientasi untuk berusaha
membantu individu untuk mengatasi
ketegangan psikis yang bersumber pada rasa
cemas dan rasa terancam yang berlebih-lebihan (anxiety). Menurut pandangan Freud, setiap
manusia didorong oleh kekuatan-kekuatan irasional di dalam dirinya
sendiri, oleh motif-motif yang tidak disadari dan oleh kebutuhan-kebutuhan alamiah yang
bersifat biologis dan naluri.
A. Prinsip-prinsip dalam Psikoanalisis.
Prinsip-prinsip
psikonalisis tentang hakikat manusia didasarkan pada asumsi-asumsi :
1. Pengalaman masa kanak-kanak mempengaruhi
perilaku pada masa dewasa.
2. Proses mental yang tidak disadari
mengintegrasi perilaku-perilaku.
3. Pada dasarnya manusia memiliki
kecenderungan mengembangkan diri melalui dorongan libido dan agresivitasnya
sejak lahir.
4. Secara umum perilaku manusia bertujuan
untuk meredakan ketegangan, menolak kesakitan dan mencari kenikmatan.
5. Kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan
seksual mengarah pada perilaku neurosis.
6. Apa yang terjadi pada seseorang saat ini
dihubungkan pada sebab-sebab di masa lampaunya dan memotivasi untuk mencapai
tujuan-tujuan di masa yang akan datang.
7. Latihan pengalaman di masa kanak-kanak
berpengaruh penting pada perilaku masa dewasa dan diulangi dalam transferensi
selama proses terapi.
Menurut
pandangan Psikoanalisis, struktur kepribadian manusia tersusun secara
struktural, dimana terdapat subsistem yang berinteraksi secara dinamis, yaitu
id, ego, dan superego.
1. Id, atau biasa disebut struktur
kepribadian primitif adalah sistem kepribadian yang dimiliki individu sejak
lahir, yang dihubungkan dengan faktor biologis dan hereditas. Digerakkan oleh
libido, yaitu energi psikis untuk dapat
beradaptasi secara fisiologis dan sosial untuk mempertahankan dan mengembangkan
spesiesnya. Prinsip kerjanya selalu mencari kesenangan dan menghindari rasa
sakit atau ketidaknyamanan. Tempatnya ada pada alam bawah sadar dan secara langsung
berpengaruh terhadap perilaku seseorang tanpa disadari.
2. Ego, adalah strukutur kepribadian yang
tidak diperoleh saat lahir, tetapi dipelajari sepanjang berinteraksi dengan
lingkungannya. Ego mempunyai tugas sebagai “penengah” antara dorongan-dorongan
biologis (Id) dan tuntutan atau hati nurani yang terbentuk dari orang tua,
budaya, dan tradisi ( superego). Ego bertindak realistis dan berfikir logis
dalam merumuskan rencana-rencana tindakan bagi pemuasan kebutuhan.
3. Superego, adalah struktur kepribadian
yang berhubungan dengan tindakan baik-buruk, benar-salah. Superego dikembangkan
dari kebudayaan dan nilai sosial, terbentuk karena adanya interaksi dengan
orang tua dan masyarakat, merepresentasikan hal-hal yang ideal, dan mendorong
individu kepada kesempurnaan, bukan kesenangan semata. Dapat dikatakan superego
merupakan kata hati seseorang dan sebagai alat kontrol dari dalam individu
untuk menentang kehendak Id.
B. Hakikat Konseling
Secara
umum hakikat konseling adalah mengubah perilaku. Dalam pendekatan
psikonanalisis hakikat konseling adalah agar individu mengetahui ego dan
memiliki ego yang kuat, yaitu menempatkan ego pada tempat yang benar yaitu
sebagai pihak mampu memilih secara rasional dan menjadi mediator antara Id dan
Superego. Konseling dalam pandangan psikoanalisis adalah sebagai proses
re-edukasi terhadap ego menjadi lebih realistik dan rasional.Konseling pada
prosesnya untuk membantu individu menyadari ketidak sadaran. Proses konseling
berarti perubahan dari ketidak sadaran menuju kesadaran
C. Tahap-tahap Konseling
Secara
sistematis proses konseling yang dikemukakan dalam urutan fase-fase konseling
dapat diikuti berikut ini:
1. Membina hubungan konseling yang terjadi
pada tahap awal konseling.
2. Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran
dalam mengemukakan masalahnya, dan melakukan transferensi.
3. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama
pada masa kanak-kanaknya.
4. Pengembangan resistensi untuk pemahaman
diri.
5. Pengembangan hubungan transferensi klien
dengan konselor.
6. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi.
7. Menutup wawancara konseling.
D. Teknik-teknik Konseling
Ada lima teknik
dasar dari konseling psikoanalisis yaitu:
1. Asosiasi Bebas, yaitu klien diupayakan
untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan
pemikirannya sehari-hari, sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa
lalunya.
2. Interpretasi, yaitu teknik yang digunakan
oleh konselor untuk menganalisis asosiasi bebas, mimpi, resistensi, dan
transferensi klien.
3. Analisis Mimpi, yaitu suatu teknik untuk
membuka hal-hal yang tak disadari dan memberi kesempatan klien untuk menilik
masalah-masalah yang belum terpecahkan.
4. Analisis Resistensi, ditujukan untuk
menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya resistensi.
5. Analisis Transferensi, konselor
mengusahakan agar klien mengembangkan transferensinya agar terungkap
neurosisnya terutama pada usia selama lima tahun pertama hidupnya.
0 komentar:
Posting Komentar