A.
Teori Gangguan Psikologis Malingering
Malingering merupakan
gangguan psikologis yang masuk dalam submateri gangguan somatoform (dalam buku
Psikologi Abnormal dan Buku Ajar Keperawatan Jiwa). Karena memiliki sedikit
kesamaan, yaitu keluhan pasien mengenai simtom fisik yang tidak dapat
dijelaskan oleh penyebab kerusakan fisik. Dalam arti bahwa setelah diadakan
pemeriksaan berdasarkan keluhan pasien, tidak didapatkan penjelasan yang
adekuat mengenai hal tersebut.
Meskipun demikian,
malingering tetap bukan merupakan gangguan somatoform. Perbedaannya terletak
pada apa yang dirasakan oleh pasien yang bersangkutan. Seseorang dengan
gangguan somatoform akan benar-benar merasa sakit, seperti nyeri, mual, pusing,
dll. Namun, seseorang dengan gangguan malingering hanya berpura-pura merasa sakit.
Dalam bukunya Monty
P. Satiadarma (2002), menyatakan bahwa dalam klasifikasi gangguan psikologis,
terdapat dua bentuk kepura-puraan yang digolongkan sebagai gangguan psikologis,
yaitu gangguan factitious -yang salah satu klasifikasinya adalah sindrom munchausen-
dan malingering sendiri. Jika factitious merupakan perilaku berpura-pura yang
bertujuan untuk berperan menjadi si sakit, maka malingering adalah perilaku
berpura-pura yang memiliki tujuan eksternal yang jelas.
B.
Pengertian
Malingering
Seperti yang telah
disinggung dalam latar belakang, bahwa malingering bukan merupakan gangguan
jiwa. Ada suatu kondisi seperti gangguan jiwa namun sebenarnya bukan merupakan
gangguan jiwa (Kaplan & Sadock’s, 2007 dalam blog Utami Maskhana
juwetlagilagi.blogspot.in). Pada kebanyakan kasus, suka berbohong atau menipu
merupakan sifat yang termasuk ke dalam karakter seseorang, bahkan berbohong
untuk mendapatkan keuntungan pribadi memang sudah ada sejak dulu (dalam blog
Bhyllabus, catatan.legawa.com).
Dalam keseharian,
kita pastinya sudah sering bertemu dengan orang yang suka berbohong, entah itu
dalam hal berpura-pura sakit, atau dalam hal tipu-menipu yang lainnya. Bahkan
karena seringnya, sebagian orang mungkin sudah menganggapnya biasa, dan akan
sulit untuk berusaha membedakan mana kalimat yang benar dan yang tidak pada
mereka yang memang sudah terbiasa berbohong.
Kembali kepada
malingering, Yaitu individu yang berpura-pura sakit dengan menimbulkan gejala
(secara sengaja) untuk suatu tujuan yang bersifat pribadi dan menguntungkan
pihak yang berpura-pura sakit tersebut. Dan lagi, dalam malingering ini,
individu secara sadar mengontrol gejala tersebut.
Malingering menurut
Sheila L. Videbeck (2008, hal. 594), juga diartikan sebagai membuat
kepura-puraan dengan sengaja/ gejala fisik atau psikologis yang terlalu
dilebih-lebihkan dikarenakan dorongan eksternal, seperti menghindari pekerjaan,
menghindari tuntutan kriminal, mendapatkan kompensasi finansial, atau mendapatkan
obat-obatan. Dikatakan juga bahwa, mereka yang mengalami malingering akan
menghentikan kepura-puraannya apabila tujuannya telah tercapai, atau ketika
mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Selain itu, mereka
biasanya dapat berhenti menghasilkan tanda dan gejalanya jika dianggap tidak
menguntungkan lagi untuk dilanjutkan, atau memiliki resiko yang tinggi dan
membahayakan hidup mereka (dalam blog syamsulwernx.blogspot.in).
C.
Gejala-gejala Gangguan Malingering
Berdasarkan
pengertian malingering yang telah dipaparkan, maka kita dapat mengambil
kesimpulan terkait dengan gejala-gejala yang terdapat pada individu yang
mengalami malingering. Misalnya pada gejala fisik, seperti yang dapat kita
terka bahwa, pada mereka yang dengan sengaja menimbulkan gejala fisik, seperti:
melukai diri sendiri, menyuntikkan cairan penyebab alergi ke dalam tubuh, atau
mungkin berpura-pura mengalami gangguan penglihatan, berpura-pura sakit kepala
akut dan lain sebagainya, maka bila dilakukan beberapa tes kesehatan oleh
dokter yang bersangkutan, akan diketahui dan dapat ditentukan apakah yang
diderita oleh si ‘sakit’ tadi merupakan benar-benar gejala sakit, atau hanya
kondisi malingering semata. Mengenai gejala fisik individu yang mengalami
malingering, akan muncul kejanggalan pada data yang dikumpulkan karena tidak
adanya dasar yang objektif, atau tidak ditemukannya dasar fisiologis yang jelas
mengenai keluhan yang diungkapkan. Selain itu, biasanya para penderita tidak
bekerja sama dengan baik selama proses diagnostik atau pemeriksaan klinis dan
juga kurang mematuhi jenis terapi atau pengobatan yang telah diresepkan (dalam
blog Utami juwetlagilagi.blogspot.in).
Gejala yang sudah
umum terjadi adalah tiba-tiba merasa (berpura-pura) sakit pada waktu-waktu
tertentu, misalnya seorang pejabat yang korupsi tiba-tiba dirujuk oleh
pengacaranya untuk melakukan pemeriksaan klinis ketika akan/ sedang di penjara
atau saat proses pengadilan (berkaitan dengan hukum), contoh lainnya ketika
telah tiba waktunya untuk pergi ke sekolah, seorang anak tiba-tiba mengaku
sakit padahal tidak menunjukkan gejala fisik yang meyakinkan. Namun gejala ini
tetap tidak sepenuhnya dapat dijadikan acuan yang adekuat, meskipun dapat
menjadi alasan yang menunjang dugaan seorang dokter atau psikiater yang merasa
bahwa pasiennya menderita malingering.
Kemudian, dalam
bukunya Gerald C. Davison, dkk (2002, hal.242) mengatakan bahwa kepura-puraan
sakit didiagnosis sebagai malingering apabila simtom-simtom yang dibuat
(disengaja) dapat dikendalikan. Misalnya ketika individu yang mengalami
malingering sedang diwawancarai, maka ia akan merasa was-was dan hati-hati
karena menganggap wawancara sebagai tantangan yang harus dilewati untuk
berhasilnya kebohongan yang dilakukan.
Dikatakan juga,
simtom-simtom pada malingering sengaja dibuat dengan motivasi/ tujuan yang
jelas. Seperti yang telah disebutkan, entah itu untuk menghindari suatu hal seperti
hukuman, tugas/ tanggung jawab tertentu, tagihan utang dan lain sebagainya.
Penderita
malingering, seperti yang dikemukakan Monty P. Satiadarma (2002, hal.12) bahwa,
seringkali individu yang bersangkutan juga menunjukkan adanya perilaku
anti-sosial. Penderita kepribadian anti-sosial cenderung berperilaku melawan/
melanggar hukum. Jenis kepribadian ini juga disebut sebagai psikopat/sosiopat.
D.
Faktor Penyebab dan Penanganan Gangguan Malingering
Gangguan malingering
sendiri merupakan gangguan berpura-pura sakit karena dorongan faktor eksternal
yang jelas. Berbeda dengan factitious ataupun sindrom munchausen sebagaimana
telah dipaparkan sebelumnya. Faktor eksternal tersebut bisa dalam bentuk
hukuman, kewajiban, dan keuntungan.
Faktor lain yaitu
karena adanya gangguan kepribadian sosial/ asosial. Dengan gangguan asosial
ini, individu kurang memiliki hati nurani, sehingga menjadi rentan terhadap
perilaku kriminal, suka memanfaatkan orang lain. Individu dengan kepribadian
asosial cenderung suka berbohong, mencuri, agresif, dan lebih mementingkan
kebutuhan diri sendiri.
Adapun penanganannya
bagi seorang dokter/ psikiater agar tidak masuk dalam lingkaran kepura-puraan
dari si pasien malingering, sebaiknya dilakukan pemeriksaan. Dengan adanya
rentetan pemeriksaan klinis yanng dilakukan, pasien bisa saja merasa kesulitan
untuk tetap mempertahankan kebohongannya. Meskipun demikian, melakukan berbagai
pemeriksaan klinis tersebut juga perlu dipertimbangkan apabila memang Dokter
yang menangani telah benar-benar yakin bahwa pasiennya hanya berpura-pura,
karena selain mengganggu pelayanan pasien-pasien yang lain, juga akan memakan
waktu, tenaga, dan fasilitas kesehatan.
Selama proses ini,
dokter/ psikiater yang menangani sebaiknya memperbanyak bersabar dan
menetralkan emosi jika sewaktu-waktu pasien tersebut menuduh bahwa hasil
pemeriksaan medis yang telah dilakukan adalah salah. Sebaiknya selama proses pemeriksaann
yang dijalani, Dokter/ psikiater membuat hubungan yaang baik dengan si pasien,
sehingga paling tidak akan dapat diketahui apa alasan si pasien berpura-pura
sakit.
Lalu, bisa juga dengan dilakukan wawancara
dengan pasien itu sendiri. Proses wawancara ini dapat berjalan baik dan
dijadikan sarana dalam mengumpulkan informasi yang tepat terkait dengan keadaan
dan alasan pasien berpura-pura sakit apabila hubungan yang harmonis antara
pasien dengan dokter telah terjalin. Wawancara juga dapat dilakukan dengan
keluarga pasien dan petugas medis. Selain itu, juga penting untuk melihat
riwayat hidup pasien untuk melihat apakah keluhan si pasien cenderung mendadak
atau tidak, dan juga data dari psikiater yang mungkin turut menangani.
0 komentar:
Posting Komentar