Sabtu, 04 Juni 2016

Psikologi Abnormal (Malingering)



A.           Teori Gangguan Psikologis Malingering
Malingering merupakan gangguan psikologis yang masuk dalam submateri gangguan somatoform (dalam buku Psikologi Abnormal dan Buku Ajar Keperawatan Jiwa). Karena memiliki sedikit kesamaan, yaitu keluhan pasien mengenai simtom fisik yang tidak dapat dijelaskan oleh penyebab kerusakan fisik. Dalam arti bahwa setelah diadakan pemeriksaan berdasarkan keluhan pasien, tidak didapatkan penjelasan yang adekuat mengenai hal tersebut.
Meskipun demikian, malingering tetap bukan merupakan gangguan somatoform. Perbedaannya terletak pada apa yang dirasakan oleh pasien yang bersangkutan. Seseorang dengan gangguan somatoform akan benar-benar merasa sakit, seperti nyeri, mual, pusing, dll. Namun, seseorang dengan gangguan malingering hanya berpura-pura merasa sakit.
Dalam bukunya Monty P. Satiadarma (2002), menyatakan bahwa dalam klasifikasi gangguan psikologis, terdapat dua bentuk kepura-puraan yang digolongkan sebagai gangguan psikologis, yaitu gangguan factitious -yang salah satu klasifikasinya adalah sindrom munchausen- dan malingering sendiri. Jika factitious merupakan perilaku berpura-pura yang bertujuan untuk berperan menjadi si sakit, maka malingering adalah perilaku berpura-pura yang memiliki tujuan eksternal yang jelas.

B.           Pengertian Malingering
Seperti yang telah disinggung dalam latar belakang, bahwa malingering bukan merupakan gangguan jiwa. Ada suatu kondisi seperti gangguan jiwa namun sebenarnya bukan merupakan gangguan jiwa (Kaplan & Sadock’s, 2007 dalam blog Utami Maskhana juwetlagilagi.blogspot.in). Pada kebanyakan kasus, suka berbohong atau menipu merupakan sifat yang termasuk ke dalam karakter seseorang, bahkan berbohong untuk mendapatkan keuntungan pribadi memang sudah ada sejak dulu (dalam blog Bhyllabus, catatan.legawa.com).
Dalam keseharian, kita pastinya sudah sering bertemu dengan orang yang suka berbohong, entah itu dalam hal berpura-pura sakit, atau dalam hal tipu-menipu yang lainnya. Bahkan karena seringnya, sebagian orang mungkin sudah menganggapnya biasa, dan akan sulit untuk berusaha membedakan mana kalimat yang benar dan yang tidak pada mereka yang memang sudah terbiasa berbohong.
Kembali kepada malingering, Yaitu individu yang berpura-pura sakit dengan menimbulkan gejala (secara sengaja) untuk suatu tujuan yang bersifat pribadi dan menguntungkan pihak yang berpura-pura sakit tersebut. Dan lagi, dalam malingering ini, individu secara sadar mengontrol gejala tersebut.
Malingering menurut Sheila L. Videbeck (2008, hal. 594), juga diartikan sebagai membuat kepura-puraan dengan sengaja/ gejala fisik atau psikologis yang terlalu dilebih-lebihkan dikarenakan dorongan eksternal, seperti menghindari pekerjaan, menghindari tuntutan kriminal, mendapatkan kompensasi finansial, atau mendapatkan obat-obatan. Dikatakan juga bahwa, mereka yang mengalami malingering akan menghentikan kepura-puraannya apabila tujuannya telah tercapai, atau ketika mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Selain itu, mereka biasanya dapat berhenti menghasilkan tanda dan gejalanya jika dianggap tidak menguntungkan lagi untuk dilanjutkan, atau memiliki resiko yang tinggi dan membahayakan hidup mereka (dalam blog syamsulwernx.blogspot.in).

C.           Gejala-gejala Gangguan Malingering
Berdasarkan pengertian malingering yang telah dipaparkan, maka kita dapat mengambil kesimpulan terkait dengan gejala-gejala yang terdapat pada individu yang mengalami malingering. Misalnya pada gejala fisik, seperti yang dapat kita terka bahwa, pada mereka yang dengan sengaja menimbulkan gejala fisik, seperti: melukai diri sendiri, menyuntikkan cairan penyebab alergi ke dalam tubuh, atau mungkin berpura-pura mengalami gangguan penglihatan, berpura-pura sakit kepala akut dan lain sebagainya, maka bila dilakukan beberapa tes kesehatan oleh dokter yang bersangkutan, akan diketahui dan dapat ditentukan apakah yang diderita oleh si ‘sakit’ tadi merupakan benar-benar gejala sakit, atau hanya kondisi malingering semata. Mengenai gejala fisik individu yang mengalami malingering, akan muncul kejanggalan pada data yang dikumpulkan karena tidak adanya dasar yang objektif, atau tidak ditemukannya dasar fisiologis yang jelas mengenai keluhan yang diungkapkan. Selain itu, biasanya para penderita tidak bekerja sama dengan baik selama proses diagnostik atau pemeriksaan klinis dan juga kurang mematuhi jenis terapi atau pengobatan yang telah diresepkan (dalam blog Utami juwetlagilagi.blogspot.in).
Gejala yang sudah umum terjadi adalah tiba-tiba merasa (berpura-pura) sakit pada waktu-waktu tertentu, misalnya seorang pejabat yang korupsi tiba-tiba dirujuk oleh pengacaranya untuk melakukan pemeriksaan klinis ketika akan/ sedang di penjara atau saat proses pengadilan (berkaitan dengan hukum), contoh lainnya ketika telah tiba waktunya untuk pergi ke sekolah, seorang anak tiba-tiba mengaku sakit padahal tidak menunjukkan gejala fisik yang meyakinkan. Namun gejala ini tetap tidak sepenuhnya dapat dijadikan acuan yang adekuat, meskipun dapat menjadi alasan yang menunjang dugaan seorang dokter atau psikiater yang merasa bahwa pasiennya menderita malingering.
Kemudian, dalam bukunya Gerald C. Davison, dkk (2002, hal.242) mengatakan bahwa kepura-puraan sakit didiagnosis sebagai malingering apabila simtom-simtom yang dibuat (disengaja) dapat dikendalikan. Misalnya ketika individu yang mengalami malingering sedang diwawancarai, maka ia akan merasa was-was dan hati-hati karena menganggap wawancara sebagai tantangan yang harus dilewati untuk berhasilnya kebohongan yang dilakukan.

Dikatakan juga, simtom-simtom pada malingering sengaja dibuat dengan motivasi/ tujuan yang jelas. Seperti yang telah disebutkan, entah itu untuk menghindari suatu hal seperti hukuman, tugas/ tanggung jawab tertentu, tagihan utang dan lain sebagainya.
Penderita malingering, seperti yang dikemukakan Monty P. Satiadarma (2002, hal.12) bahwa, seringkali individu yang bersangkutan juga menunjukkan adanya perilaku anti-sosial. Penderita kepribadian anti-sosial cenderung berperilaku melawan/ melanggar hukum. Jenis kepribadian ini juga disebut sebagai psikopat/sosiopat.

D.          Faktor Penyebab dan Penanganan Gangguan Malingering
Gangguan malingering sendiri merupakan gangguan berpura-pura sakit karena dorongan faktor eksternal yang jelas. Berbeda dengan factitious ataupun sindrom munchausen sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya. Faktor eksternal tersebut bisa dalam bentuk hukuman, kewajiban, dan keuntungan.
Faktor lain yaitu karena adanya gangguan kepribadian sosial/ asosial. Dengan gangguan asosial ini, individu kurang memiliki hati nurani, sehingga menjadi rentan terhadap perilaku kriminal, suka memanfaatkan orang lain. Individu dengan kepribadian asosial cenderung suka berbohong, mencuri, agresif, dan lebih mementingkan kebutuhan diri sendiri.
Adapun penanganannya bagi seorang dokter/ psikiater agar tidak masuk dalam lingkaran kepura-puraan dari si pasien malingering, sebaiknya dilakukan pemeriksaan. Dengan adanya rentetan pemeriksaan klinis yanng dilakukan, pasien bisa saja merasa kesulitan untuk tetap mempertahankan kebohongannya. Meskipun demikian, melakukan berbagai pemeriksaan klinis tersebut juga perlu dipertimbangkan apabila memang Dokter yang menangani telah benar-benar yakin bahwa pasiennya hanya berpura-pura, karena selain mengganggu pelayanan pasien-pasien yang lain, juga akan memakan waktu, tenaga, dan fasilitas kesehatan.
Selama proses ini, dokter/ psikiater yang menangani sebaiknya memperbanyak bersabar dan menetralkan emosi jika sewaktu-waktu pasien tersebut menuduh bahwa hasil pemeriksaan medis yang telah dilakukan adalah salah. Sebaiknya selama proses pemeriksaann yang dijalani, Dokter/ psikiater membuat hubungan yaang baik dengan si pasien, sehingga paling tidak akan dapat diketahui apa alasan si pasien berpura-pura sakit.
Lalu, bisa juga dengan dilakukan wawancara dengan pasien itu sendiri. Proses wawancara ini dapat berjalan baik dan dijadikan sarana dalam mengumpulkan informasi yang tepat terkait dengan keadaan dan alasan pasien berpura-pura sakit apabila hubungan yang harmonis antara pasien dengan dokter telah terjalin. Wawancara juga dapat dilakukan dengan keluarga pasien dan petugas medis. Selain itu, juga penting untuk melihat riwayat hidup pasien untuk melihat apakah keluhan si pasien cenderung mendadak atau tidak, dan juga data dari psikiater yang mungkin turut menangani.

0 komentar:

Posting Komentar