Agar memudahkan Anda
melakukan layanan bimbingan dan konseling di sekolah, hendaknya perlu diketahui
langkah-langkah yang harus dilakukan dalam memberikan layanan Bimbingan
Konseling pada siswa Anda terutama mereka yang mempunyai masalah. Adapun
langkah-langkah tersebut meliputi:
1.) Identifikasi Masalah.
Pada langkah ini yang harus
diperhatikan guru adalah mengenal gejala-gejala awal dari suatu masalah yang
dihadapi siswa. Maksud dari gejala awal disini adalah apabila siswa menujukkan
tingkah laku berbeda atau menyimpang dari biasanya. Untuk mengetahui gejala
awal tidaklah mudah, karena harus dilakukan secara teliti dan hati-hati dengan
memperhatikan gejala-gejala yang nampak, kemudian dianalisis dan selanjutnya
dievaluasi. Apabila siswa menunjukkan tingkah laku atau hal-hal yang berbeda
dari biasanya, maka hal tersebut dapat diidentifikasi sebagai gejala dari suatu
masalah yang sedang dialami siswa.
Sebagai contoh, Benin seorang siswa yang
mempunyai prestasi belajar yang bagus, untuk semua mata pelajaran ia memperoleh
nilai diatas rata-rata kelas. Dia juga disenangi teman-teman maupun guru karena
pandai bergaul, tidak sombong, dan baik hati. Sudah dua bulan ini Benin berubah
menjadi agak pendiam, prestasi belajarnyapun mulai menurun. Sebagai guru
Bimbingan Konseling, ibu Heni mengadakan pertemuan dengan guru untuk mengamati
Benin. Dari hasil laporan dan pegamatan yang dilakukan oleh beberapa orang
guru, ibu Heni kemudian melakukan evaluai berdasarkan masalah Benin dengan
gejala yang nampak. Selanjutnya dapat diperkirakan jenis dan sifat masalah yang
dihadapi Benin tersebut. Karena dalam pengamatan terlihat prestasi belajar
Benin menurun, maka dapat diperkirakan Benin sedang mengalmi masalah ” kurang
menguasai materi pelajaran “. Perkiraan tersebut dapat dijadikan sebagai acuan
langkah selanjutnya yaitu diagnosis.
2.) Diagnosis
Pada langkah diagnosis yang dilakukan adalah menetapkan ”masalah”
berdasarkan analisis latar belakang yang menjadi penyebab timbulnya masalah.
Dalam langkah ini dilakukan kegiatan pengumpulan data mengenai berbagai hal
yang menjadi latar belakang atau yang melatarbelakangi gejala yang muncul.
Pada
kasus Benin, dilakukan pengumpulan informasi dari berbagai pihak. Yaitu dari
orang tua, teman dekat, guru dan juga Benin sendiri. Dari informasi yang
terkumpul, kemudian dilakukan analisis maupun sistesis dan dilanjutkan dengan
menelaah keterkaitan informasi latar belakang dengan gejala yang nampak. Dari
informasi yang didapat, Benin terlihat menjadi pendiam dan prestasi belajamya
menurun. Dari informasi keluarga didapat keterangan bahwa kedua orang tua Benin
telah bercerai. Berdasarkan analisis dan sistesis, kemudian diperkirakan jenis
dan bentuk masalah yang ada pada diri Benin yaitu karena orang tuanya telah
bercerai menyebabkan Benin menjadi pendiam dan prestasi belajarnya menurun,
maka Benin sedang mengalami masalah pribadi.
3.) Prognosis
Langkah prognosis ini pembimbing menetapkan alternatif tindakan bantuan yang akan diberikan. Selanjutanya melakukan perencanaan mengenai jenis dan bentuk masalah apa yang sedang dihadapi individu.
Langkah prognosis ini pembimbing menetapkan alternatif tindakan bantuan yang akan diberikan. Selanjutanya melakukan perencanaan mengenai jenis dan bentuk masalah apa yang sedang dihadapi individu.
Seperti rumusan kasus Benin, maka diperkirakan Benin
menghadapi masalah, rendah diri karena orang tua telah bercerai sehingga merasa
kurang mendapat perhatian dari mereka. Dari rumusan jenis dan bentuk masalah
yang sedang dihadapi Benin, maka dibuat alternatif tindakan bantuan, seperti
memberikan konseling individu yang bertujuan untuk memperbaiki perasaan kurang diperhatikan,
dan rendah diri. Dalam hal ini konselor menawarkan alternatif layanan pada
orang tua Benin dan juga Benin sendiri untuk diberikan konseling. Penawaran
tersebut berhubungan dengan kesediaan individu Benin sebagai orang yang sedang
mempunyai masalah (klien).
Dalam menetapkan prognosis, pembimbing perlu memperhatikan:
- Pendekatan yang akan diberikan dilakukan secara perorangan atau kelompok.
- Siapa yang akan memberikan bantuan, apakah guru, konselor, dokter atau individu lain yang lebih ahli.
- Kapan bantuan akan dilaksanakan, atau hal-hal apa yang perlu dipertimbangkan.
- Apabila dalam memberi bimbingan guru mengalami kendala, yaitu tidak bisa diselesaikan karena terlalu sulit atau tidak bisa ditangani oleh pembimbing, maka penanganan kasus tersebut perlu dialihkan penyelesainnya kepada orang yang lebih berwenang, seperti dokter, psikiater atau lembaga lainnya.
Layanan pemindahtanganan karena masalahnya tidak mampu diselesaikan oleh
pembimbing tersebut dinamakan dengan layanan referal. Pada dasarnya bimbingan
merupakan proses memberikan bantuan kepada pihak siswa agar ia sebagai pribadi
memiliki pemahaman akan diri sendiri dan sekitarnya, yang selanjutnya dapat
mengambil keputusan untuk melangkah maju secara optimal guna menolong diri
sendiri dalam menghadapi dan memecahkan masalah, dan siswa atau individu yang
mempunyai masalah tersebut menetukan alternatif yang sesuai dengan
kemampuannya.
4.) Pemberian Bantuan
Setelah guru merencanakan pemberian bantuan, maka dilanjutkan dengan
merealisasikan langkah-langkah alternatif bentuk bantuan berdasarakn masalah
dan latar belakang yang menjadi penyebanya. Langkah pemberian bantuan ini
dilaksanakan dengan berbagai pendekatan dan teknik pemberian bantuan.
Pada
kasus Benin telah direncanakan pemberian bantuan secara individual. Pada tahap
awal diadakan pendekatan secara pribadi, pembimbing mengajak Benin menceritakan
masalahnya, mungkin pada awalnya Benin akan sangat sulit menceritakan
masalahnya, karena masih memiliki perasaan takut atau tidak percaya terhadap
pembimbing. Dalam hal ini pembimbing dituntut kesabarannya untuk bisa membuka
hati Benin agar mau menceritakan masalahnya, dan menyakinkan kepada Benin bahwa
masalahnya tidak akan diceritakan pada orang lain serta akan dibantu
menyelesaikannya. Pemberian bantuan ini dilakukan tidak hanya sekali atau dua
kali pertemuan saja, tetapi perlu waktu yang berulang-ulang dan dengan jadwal
dan sifat pertemuan yang tidak terikat, kapan Benin sebagai individu yang
mempunyai masalah mempunyai waktu untuk menceritakan masalahnya dan bersedia
diberikan bantuan. Oleh sebab itu seorang pembimbing harus dapat menumbuhkan
transferensi yang positif dimana klien mau memproyeksikan perasaan
ketergantungannya kepada pembimbing (konselor).
5.) Evaluasi dan Tindak Lanjut.
Setelah pembimbing dan klien melakukan beberapa kali pertemuan, dan
mengumpulkan data dari beberapa individu, maka langkah selanjutnya adalah
melakukan evaluasi dan tindak lanjut. Evaluasi dapat dilakukan selama proses
pemberian bantuan berlangsung sampai pada akhir pemberian bantuan. Pengumpulan
data dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik, seperti melalui
wawancara, angket, observasi diskusi, dokumentasi dan sebagainya.
Dalam kasus
Benin, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara antara pembimbing dengan
Benin sendiri, pembimbing dengan orang tua Benin, teman dekat atau sahabat
Benin, dan beberapa orang guru. Observasi juga dilakukan terhadap Benin pada
jam istirahat, bagaimana Benin bergaul dengan temannya, bagaimana
teman-temannya memperlakukan Benin dan sebagainya. Sedang observasi yang
dilakukan baik oleh pembimbing maupun guru, yaitu untuk mengetahui aktivitas
Benin dalam menerima pelajaran, sikapnya di dalam kelas saat mengikuti
pembelajaran. Pembimbing juga berkunjung kerumah Benin guna mengetahui kondisi
rumah Benin sekaligus mewawancarai orang tuanya mengenai sikap Benin di rumah
Dari beberapa data yang telah tekumpul, kemudian pembimbing mengadakan evaluasi
untuk mengetahui sampai sejauh mana upaya pemberian bantuan telah dilaksanakan
dan bagaimana hasil dari pemberian bantuan tersebut, bagaimana ketepatan
pelaksanaan yang telah diberikan. Dari evaluasi tersebut dapat diambil
langkah-langkah selanjutnya; apabila pemberian bantuan kurang berhasil, maka
pembimbing dapat merubah tindakan atau mengembangkan bantuan kedalam bentuk
yang berbeda.
0 komentar:
Posting Komentar