Sabtu, 04 Juni 2016

Psikologi Abnormal (Psikosomatis)


A.        Pengertian Psikosomatis

Menurut Dr. Kartini Kartono bahwa psikosomatisme adalah bentuk macam – macam penyakit fisik yang di timbulkan oleh konflik – konflik psikis atau psikologis dan kecemasan kronis.

Dan juga psikosomatis adalah kegagalan sistem syaraf dan sistem fisik yang di sebabkan oleh kecemasan – kecemasan, konflik – konflik psikis dan gangguan mental.

Menurut Gerald C. Davidson dkk  psikosomatisme adalah penyakit yang mencakup kerusakan tubuh.

Menurut Sheila L. Videbeck istilah psikosomatisme mulai di gunakan untuk menyatakan hubungan antara pikiran (psike) dan tubuh (soma) dalam keadaan sehat dan sakit.

Dari bahasan ini dapat disimpulkan bahwa psikosomatisme diartikan sebagai gangguan fisik yang disebabkan oleh keadaan emosi yang berlebihan dan kronis dalam merespon tekanan – tekanan yang ada, seperti jantung berdebar – debar, sakit maag, sakit kepala, sesak nafas dan lesu.


1.) Teori Biologis

Respon biologis terhadap stress merupakan bagian dari respon yang sehat dan rutin. Kerusakan fisiologis hanya dapat terjadi bila respon biologis terhadap stress dapat di aktifkan, atau bila proses counter – regulatory tidak mengembalikan sistem tubuh ke kondisi sebelum stress dalam waktu yang tidak lama.

Teori Kelemahan Somatik. Faktor genetik, penyakit yang pernah di derita sebelumnya, diet, dan sejenisnya dapat mengganggu sister organ tertentu, yang kemudian menjadi lemah dan tidak memiliki daya tahan terhadap stress.

Teori Reaksi Spesifik. Telah ditemukan bahwa setiap orang memiliki pola respon atau nomik terhadap stress yang bersifat individual. Pada seseorang reaksinya dapat berupa detak jantung menjadi lebih cepat, sedangkan bagi orang lain dapat berupa tarikan nafas yang lebih cepat, namun tidak mengalami percepatan detak jantung (lacey, 1967).

Pemaparan Jangka Panjang Pada Hormon Stress. Teori ini lebih mutakhir berupaya menjelaskan fakta bahwa berbagai perubahan Biologis yang di timbulkan oleh stress bersifat adaptif dalam jangka pendek contohnya memobilisasi sumber daya energy dalam persiapan aktifitas fisik, namun berbahaya dalam jangka panjang (McEwen, 1998).



2.) Teori Psikologis

Berbagai teori psikologi berupaya menjelaskan perkembangan berbagai macam gangguan psikofisiologis dengan mempertimbangkan faktor – faktor seperti kondisi emosional yang tidak disadari, karakteristik kepribadian, penilaian kognitif, gaya coping tertentu terhadap stress.

Teori Psikoanalisis. Teori psikoanalisis berpendapat bahwa konflik-konflik tertentu dan kondisi emosional negative yang terkait dengannya memicu terjadinya gangguan psikofisiologis.



B.        Gangguan psikosomatik

Ada beberapa gangguan psikosomatik biasanya digolongkan menurut organ yang terkena yaitu :

Ø  Gangguan Kardiovaskular, penyakit pada jantung dan sistem sirkulasi darah. Penyakit kardiovaskular menjadi penyebab hampir separuh dari total angka kematian di AS setiap tahunnya. Contohnya: hipertensi, migren.

Ø  Gangguan pernafasan,  penyakit yang mengganggu sistem pernafasan. contohnya: sesak napas,  asma.

Ø  Gangguan kulit misalnya terjadinya pengeringan pada kulit.

Ø  Gangguan pencernaan sebagai manifestasi gangguan psikosomatis paling sering terdapat dalam praktek, akan tetapi penderita harus diperiksa betul untuk menyingkirkan penyebab somatogenik. Misalnya: Muntah-muntah, diare, luka lambung, nafsu makan.



C.        Penyebab terjadinya psikomatik

Ø  Penyakit organik yang dulu pernah diderita dapat menimbulkan predisposisi untuk timbulnya gangguan psikosomatis pada bagian tubuh yang pernah sakit. Contoh : dulu pernah sakit disentri, lalu kemudian dalam keadaan emosi tertentu timbullah keluhan pada saluran pencernaan.

Ø  Tradisi keluarga dapat mengarahkan emosi kepada fungsi tertentu. Misalnya bila menu dan diit selalu diperhatikan, maka mungkin nanti sering mengeluh tentang lambung.

Ø  Suatu emosi menjelma secara simbolik elementer menjadi suatu gangguan badaniah tertentu. Misalnya bila seorang cemas, maka timbul keluhan dari pihak jantung begitu juga sebaliknya, rasa benci menimbulkan rasa muntah.

Ø  Dapat ditentukan juga oleh kebiasaan, anggapan dan kepercayaan masyarakat di sekitar. Misalnya anggapan bahwa menopous menyebabkan wanita sakit, maka nanti ia mengeluh juga ketika menopous.



D.    Cara penanganannya

Menurut Tebbets mengatakan bahwa ada 3 langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi penyakit psikosomatis dan menghilangkan simtomnya melalui teknik uncovering yaitu :

a. Memori yang menyebabkan munculnya simtom harus dimunculkan dan dibawa ke level pikiran sadar sehingga diketahui.

b. Perasaan atau emosi yang berhubungan dengan memori ini harus kembali dialami dan dirasakan oleh klien.

c. Menemukan hubungan antara simtom dan memori. Harus terjadi pembelajaran pada secara emosi atau pada level pikiran bawah sadar, sehingga memungkinkan seseorang membuat keputusan, di masa depan, yang mana keputusannya tidak lagi dipengaruhi oleh materi yang ditekan (repressed content) di pikiran bawah sadar.



Kemudian terapi Perilaku yaitu Biofeedback ini adalah terapi yang menerapkan teknik behavior dan banyak digunakan untuk mngatasi psikosomatik. Terapi yang dikembangkan oleh Nead Miller ini didasari oleh pemikiran bahwa berbagai respon atau reaksi yang dikendalikan oleh sistem syaraf otonam sebenarnya dapat diatur sendiri oleh individu melalui operant conditioning. Biofeedback mempergunakan instrumen sehingga individu dapat mengenali adanya perubahan psikologis dan fisik pada dirinya dan kemudian berusaha untuk mengatur reaksinya.

Misalnya seseorang penderita migrain atau sakit kepala. Dengan menggunakan biofeedback, ia bisa berusaha untuk rileks pada saat mendengan singal yang menunjukkan bahwa ada kontraksi otot atau denyutan dikepala.

Penerapan teknik ini pada pasien dengan hipertensi, aritmia jantung, epilepsy dan nyeri kepala tegangan telah memberikan hasil terapetik yang membesarkan hati tetapi tidak menyakitkan.

Psikologi Abnormal (Malingering)



A.           Teori Gangguan Psikologis Malingering
Malingering merupakan gangguan psikologis yang masuk dalam submateri gangguan somatoform (dalam buku Psikologi Abnormal dan Buku Ajar Keperawatan Jiwa). Karena memiliki sedikit kesamaan, yaitu keluhan pasien mengenai simtom fisik yang tidak dapat dijelaskan oleh penyebab kerusakan fisik. Dalam arti bahwa setelah diadakan pemeriksaan berdasarkan keluhan pasien, tidak didapatkan penjelasan yang adekuat mengenai hal tersebut.
Meskipun demikian, malingering tetap bukan merupakan gangguan somatoform. Perbedaannya terletak pada apa yang dirasakan oleh pasien yang bersangkutan. Seseorang dengan gangguan somatoform akan benar-benar merasa sakit, seperti nyeri, mual, pusing, dll. Namun, seseorang dengan gangguan malingering hanya berpura-pura merasa sakit.
Dalam bukunya Monty P. Satiadarma (2002), menyatakan bahwa dalam klasifikasi gangguan psikologis, terdapat dua bentuk kepura-puraan yang digolongkan sebagai gangguan psikologis, yaitu gangguan factitious -yang salah satu klasifikasinya adalah sindrom munchausen- dan malingering sendiri. Jika factitious merupakan perilaku berpura-pura yang bertujuan untuk berperan menjadi si sakit, maka malingering adalah perilaku berpura-pura yang memiliki tujuan eksternal yang jelas.

B.           Pengertian Malingering
Seperti yang telah disinggung dalam latar belakang, bahwa malingering bukan merupakan gangguan jiwa. Ada suatu kondisi seperti gangguan jiwa namun sebenarnya bukan merupakan gangguan jiwa (Kaplan & Sadock’s, 2007 dalam blog Utami Maskhana juwetlagilagi.blogspot.in). Pada kebanyakan kasus, suka berbohong atau menipu merupakan sifat yang termasuk ke dalam karakter seseorang, bahkan berbohong untuk mendapatkan keuntungan pribadi memang sudah ada sejak dulu (dalam blog Bhyllabus, catatan.legawa.com).
Dalam keseharian, kita pastinya sudah sering bertemu dengan orang yang suka berbohong, entah itu dalam hal berpura-pura sakit, atau dalam hal tipu-menipu yang lainnya. Bahkan karena seringnya, sebagian orang mungkin sudah menganggapnya biasa, dan akan sulit untuk berusaha membedakan mana kalimat yang benar dan yang tidak pada mereka yang memang sudah terbiasa berbohong.
Kembali kepada malingering, Yaitu individu yang berpura-pura sakit dengan menimbulkan gejala (secara sengaja) untuk suatu tujuan yang bersifat pribadi dan menguntungkan pihak yang berpura-pura sakit tersebut. Dan lagi, dalam malingering ini, individu secara sadar mengontrol gejala tersebut.
Malingering menurut Sheila L. Videbeck (2008, hal. 594), juga diartikan sebagai membuat kepura-puraan dengan sengaja/ gejala fisik atau psikologis yang terlalu dilebih-lebihkan dikarenakan dorongan eksternal, seperti menghindari pekerjaan, menghindari tuntutan kriminal, mendapatkan kompensasi finansial, atau mendapatkan obat-obatan. Dikatakan juga bahwa, mereka yang mengalami malingering akan menghentikan kepura-puraannya apabila tujuannya telah tercapai, atau ketika mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Selain itu, mereka biasanya dapat berhenti menghasilkan tanda dan gejalanya jika dianggap tidak menguntungkan lagi untuk dilanjutkan, atau memiliki resiko yang tinggi dan membahayakan hidup mereka (dalam blog syamsulwernx.blogspot.in).

C.           Gejala-gejala Gangguan Malingering
Berdasarkan pengertian malingering yang telah dipaparkan, maka kita dapat mengambil kesimpulan terkait dengan gejala-gejala yang terdapat pada individu yang mengalami malingering. Misalnya pada gejala fisik, seperti yang dapat kita terka bahwa, pada mereka yang dengan sengaja menimbulkan gejala fisik, seperti: melukai diri sendiri, menyuntikkan cairan penyebab alergi ke dalam tubuh, atau mungkin berpura-pura mengalami gangguan penglihatan, berpura-pura sakit kepala akut dan lain sebagainya, maka bila dilakukan beberapa tes kesehatan oleh dokter yang bersangkutan, akan diketahui dan dapat ditentukan apakah yang diderita oleh si ‘sakit’ tadi merupakan benar-benar gejala sakit, atau hanya kondisi malingering semata. Mengenai gejala fisik individu yang mengalami malingering, akan muncul kejanggalan pada data yang dikumpulkan karena tidak adanya dasar yang objektif, atau tidak ditemukannya dasar fisiologis yang jelas mengenai keluhan yang diungkapkan. Selain itu, biasanya para penderita tidak bekerja sama dengan baik selama proses diagnostik atau pemeriksaan klinis dan juga kurang mematuhi jenis terapi atau pengobatan yang telah diresepkan (dalam blog Utami juwetlagilagi.blogspot.in).
Gejala yang sudah umum terjadi adalah tiba-tiba merasa (berpura-pura) sakit pada waktu-waktu tertentu, misalnya seorang pejabat yang korupsi tiba-tiba dirujuk oleh pengacaranya untuk melakukan pemeriksaan klinis ketika akan/ sedang di penjara atau saat proses pengadilan (berkaitan dengan hukum), contoh lainnya ketika telah tiba waktunya untuk pergi ke sekolah, seorang anak tiba-tiba mengaku sakit padahal tidak menunjukkan gejala fisik yang meyakinkan. Namun gejala ini tetap tidak sepenuhnya dapat dijadikan acuan yang adekuat, meskipun dapat menjadi alasan yang menunjang dugaan seorang dokter atau psikiater yang merasa bahwa pasiennya menderita malingering.
Kemudian, dalam bukunya Gerald C. Davison, dkk (2002, hal.242) mengatakan bahwa kepura-puraan sakit didiagnosis sebagai malingering apabila simtom-simtom yang dibuat (disengaja) dapat dikendalikan. Misalnya ketika individu yang mengalami malingering sedang diwawancarai, maka ia akan merasa was-was dan hati-hati karena menganggap wawancara sebagai tantangan yang harus dilewati untuk berhasilnya kebohongan yang dilakukan.

Dikatakan juga, simtom-simtom pada malingering sengaja dibuat dengan motivasi/ tujuan yang jelas. Seperti yang telah disebutkan, entah itu untuk menghindari suatu hal seperti hukuman, tugas/ tanggung jawab tertentu, tagihan utang dan lain sebagainya.
Penderita malingering, seperti yang dikemukakan Monty P. Satiadarma (2002, hal.12) bahwa, seringkali individu yang bersangkutan juga menunjukkan adanya perilaku anti-sosial. Penderita kepribadian anti-sosial cenderung berperilaku melawan/ melanggar hukum. Jenis kepribadian ini juga disebut sebagai psikopat/sosiopat.

D.          Faktor Penyebab dan Penanganan Gangguan Malingering
Gangguan malingering sendiri merupakan gangguan berpura-pura sakit karena dorongan faktor eksternal yang jelas. Berbeda dengan factitious ataupun sindrom munchausen sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya. Faktor eksternal tersebut bisa dalam bentuk hukuman, kewajiban, dan keuntungan.
Faktor lain yaitu karena adanya gangguan kepribadian sosial/ asosial. Dengan gangguan asosial ini, individu kurang memiliki hati nurani, sehingga menjadi rentan terhadap perilaku kriminal, suka memanfaatkan orang lain. Individu dengan kepribadian asosial cenderung suka berbohong, mencuri, agresif, dan lebih mementingkan kebutuhan diri sendiri.
Adapun penanganannya bagi seorang dokter/ psikiater agar tidak masuk dalam lingkaran kepura-puraan dari si pasien malingering, sebaiknya dilakukan pemeriksaan. Dengan adanya rentetan pemeriksaan klinis yanng dilakukan, pasien bisa saja merasa kesulitan untuk tetap mempertahankan kebohongannya. Meskipun demikian, melakukan berbagai pemeriksaan klinis tersebut juga perlu dipertimbangkan apabila memang Dokter yang menangani telah benar-benar yakin bahwa pasiennya hanya berpura-pura, karena selain mengganggu pelayanan pasien-pasien yang lain, juga akan memakan waktu, tenaga, dan fasilitas kesehatan.
Selama proses ini, dokter/ psikiater yang menangani sebaiknya memperbanyak bersabar dan menetralkan emosi jika sewaktu-waktu pasien tersebut menuduh bahwa hasil pemeriksaan medis yang telah dilakukan adalah salah. Sebaiknya selama proses pemeriksaann yang dijalani, Dokter/ psikiater membuat hubungan yaang baik dengan si pasien, sehingga paling tidak akan dapat diketahui apa alasan si pasien berpura-pura sakit.
Lalu, bisa juga dengan dilakukan wawancara dengan pasien itu sendiri. Proses wawancara ini dapat berjalan baik dan dijadikan sarana dalam mengumpulkan informasi yang tepat terkait dengan keadaan dan alasan pasien berpura-pura sakit apabila hubungan yang harmonis antara pasien dengan dokter telah terjalin. Wawancara juga dapat dilakukan dengan keluarga pasien dan petugas medis. Selain itu, juga penting untuk melihat riwayat hidup pasien untuk melihat apakah keluhan si pasien cenderung mendadak atau tidak, dan juga data dari psikiater yang mungkin turut menangani.

Contoh Verbatim Psikoanalisis (Asosiasi Bebas)


Nama              : Destria Atmaningtyas
NPM                : 13.601060.007

VERBATIM PENDEKATAN PSIKOANALISISI DENGAN TEKNIK ASOSIASI BEBAS

Ki
(tok..tok...) Assalamualaikum bu

Ko
Wa’alaikumsalam, mari silahkan masuk de.

Ki
Iya terima kasih bu (sembari duduk)

Ko
Kamu tadi dari mana wi ?

Ki
Tadi saya dari toko buku bu, setelah dari sana saya lngsng ke tempat ibu.

Ko
Ouh begitu, apa kamu mau minum terlebih dahulu sebelum memulai konseling ini ?

Ki
Emm tidak bu, terima kasih..

Ko
Baiklah kalau begitu..
Oia, sebelumnya kamu sudah pernah mengikuti proses konseling kn wi?

Ki
Iya bu sebelum nya saya sudah pernah mengikuti proses konseling bersama ibu, tetapi itu sudah cukup lama bu. Sekitar setahun yang lalu.

Ko
Ouh baiklah kalau seperti itu. Sekiranya apa yang masih kamu ingat mengenai konseling itu sendiri ?

Ki
Emm yang saya ingat mengenai konseling itu bu adalah proses pemberian bantuan kepada klien tidak hanya kepada klien yang bermasalah saja, tetapi membantu klien untuk menemukan potensi yang ada pada dirinya sehingga ia mampu untuk menyelesaikan permasalahn yg dihadapi. Seperti itu bu yang saya ingat.


ko
baiklah, itu sudah cukup baik..
disini ibu akan sedikit menjelaskan kembali ya mengenai konseling itu sendiri. Nah konseling itu senddiri adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh konselor kepada konseli/klien secara khusus yang dilakukan melalui interaksi antara dua orang dengan tatap muka, dimana disini adalah konselor dan konseli saja. Disni pun kamai para konselor memiliki etika dasar dalam proses konseling, salah satunya adalah asas kerahasiaan, dimana saya menjamin bahwa masalah yang kamu hadapi ini hanya tuhan, saya dan kamu saja yg mengetahuinya. Jadi kamu tidak perlu khawatir jika masalah kamu ini diketahui orang lain. Sehingga diharapkan saat proses konseling pun kamu terbuka dengan masalah kamu agar proses konseling dapat berjalan dengan baik. Jadi apakah kamu sudah mengerti dwi ?


Ki
Iya saya sudah mengerti bu. Saya akan terbuka dengan masalah yang saya hadapi sekarang ini.


Ko
Baiklah, terima kasih kamu mw bekerja sama dalam proses konseling ini.

Ki
Iya sama-sama ibu

Ko
Nah, sekarang bisakah kamu katakan tentang apa yang kamu resahkan sehingga kamu datang menemui saya hari ini ?

Ki
Begini bu, saya punyamasalah, saya trauma bu..

Ko
Trauma apa yang sedang kamu alamai hingga membuat kamu seperti ini ?

Ki
Saya trauma dengan kegelapan bu.

Ko
Emm.. apakah trauma mu ini disebabkan karena pengalaman masalah lalu kamu, sehingga kamu mengalami trauma ini sekarang ?

Ki
Iya betul seperti itu bu.

Ko
Emm, bisakah kamu ceritakan tentang awal mula penyebab kamu mengalami trauma ini ?

Ki
Emm begini bu.. dulu saat usia saya 4 tahun saya selalu ditakut-takutkan akan adanya hantu ditempat-tempat gelap bu. Orang tua saya melarang saya untuk berada diruang gelap sendirian..

Ko
Emm, apakah yang menjadi alasan orang tua kamu melarang kamu untuk berada diruangan gelap itu sendirian ?


Ki
Emm, orang tua saya mengatakan bahwa diruangan gelap itu adalah tempatnya hantu yang sangat menyeramkan. Mereka juga mengatakan bahwa hal itu saya lakukan maka hantu itu akan mengganggu dan mengikuti saya.


Ko
Emm begitu.. lalu apakah yang menyebabkan trauma kamu ini semakin menjadi-jadi ?


Ki
Kalau itu begini ceritanya bu.. Karena sebelumnya orang tua saya selalu memperingatkan saya akan hal menyeramkan itu, Saya selalu menghindari ruangan-ruangan gelap, kemudian pada suatu kejadian, saat itu saya berada didalam lift. Saat asyik mengobrol didalam lift bersama teman sayaaa, tiba-tiba lift itu berhenti tiba-tiba bu...


Ko
Emmm, lalu apa yang terjadi ?


Ki
Kemudian saat itu saya dan teman saya merasa cemas. Kami menunggu dan mengetahui bahwa lift yang kami naiki sedang mengalami masalah dan kami disuruh untuk menunggu bbrapa saat. Sambil menunngu dengan cemas, tiba-tiba lampu didalam lift tersebut mati.. itu membuat saya serontak kaget dan sangat ketakutan.. rasanya saya membayangkan apa yang dikatakan kedua orang tua saya. Saat itu saya mereaskana ketakutan hingga tanpa sadar saya pingsan dan saat bangun tidak lagi ada didalam lift tersebut.


Ko
Emmm, jdi trauma dan ketakutan kamu ini sampai membuat kamu pingsan, seperti itu ?


Ki
Iya benar sekali bu.


Ko
Apakah orang tua kamu mengetahui trauma yang kamu alami ini ?


Ki
Iya bu, mereka mengetahuinya..


Ko
Lalu apakah mereka pernah mencoba membantu untuk mengilangkan trauma kamu ini ?


Ki
Pernah bu, mereka pernah mencobanya..


Ko
Emm, apa yang mereka lakukan ?


Ki
Mereka mengatakan bahwa apa yang mereka katakan itu tidak lah benar, jadi saya tidak perlu takut atau pun khawatir dengan apa yang akan terjadi ketika saya bersada didalam ruangan gelap..


Ko
Emm, seperti itu ya.. Lallu apakah hal ini bisa meyakinkan kamu ?


Ki
Itu tidak sepenuhnya berhasil bu. hingga sekarang saya masih tetap merasakan ketakutan..


Ko
Lalu apakah sekarang kamu ingin mengatasi atau bahkan menghilangkan trauma kamu ini ?


Ki
Iya bu.. saya sangat ingin sekali..


Ko
Walaupun untuk mengilangkan trauma ini kamu harus dihadapkan kepada ketakutan kamu itu ?


Ki
Sekarang saya harus mencobanya bu..walaupun seperti itu caranya. Saya malu apabila trauma saya ini tidak dapat saya atasi..


Ko
Mengapa kamu malu dwi ?


Ki
Karena trauma ini saya sering dibully beberapa teman saya bu, saya dibilang anak yang penakut, dan mengolok-ngolok saya sambil menertawai saya..


Ko
Emm seperti itu ya.. baiklah dari apa yang kamu ceritakan tadi, dapat dikatakan kamu mengalami trauma ini dikarena orang tua kamu selalu menakuiti kamu saat kecil dan membuat kamu makin trauma dikarenakan kamu terjebak didalam lift yang gelap hingga membuat kamu pingsan.. dan orang tua kamu sudah mencoba mengurangi trauma kamu namun tidak berhasil. Tetapi kamu ingin menghilangkan trauma yang kamu alami saat ini.. apakah seperti itu?


Ki
Iya bu benar seperti itu..


Ko
Emmm, baiklah jika kamu ingin mengatasi atau pun menghilangkan trauma kamu ini, ibu ada beberapa alternativ untuk kamu.. coba kamu tanyakan kepada guru Agama kamu mengenai hal ini, mengenai ada atau tidaknya hantu itu sendiri. Kemudian kamu tanamkan dalam pikiran kamu bahwa apa yang dikatakan kedua orang tua kamu itu tidak benar. Minta bantuan kepada orang-orang disekitar kamu untuk membantu dan menyemangati kamu. Sehingga kamu tidak lagi merasa khawatir dengan trauma kamu ini. Apakah kamu mau mencobanya?


Ki
Emmm, baiklah bu saya akan mencobanya..


Ko
Emm bagus dwi.. ibu senang dengan kinginan kamu ini dan ibu yakin kamu akan bisa mengatasi bahkan mengilangkan trauma kamu ini..


Ki
Iya ibu, terima kasih banyak bu..


Ko
Iya dwi.. nah apakah sekarang ada hal lain lagi yang ingan kamu katakan ?


Ki
Saya rasa ini sudah sangat cukup ibu,,


Ko
Baiklah kalau begitu dwi, bagaimana kalau nanti kita bertemu lagi ditempat dan dijam yang sama? Nanti kamu hubungi ibu, dan kamu akan menceritakan pengalaman yang kamu alami setelah mencoba hal tadi ?


Ki
Baiklah bu, saya akan menghubungi ibu nanti.
Emmm, kalau begitu saya pamit dulu ya bu..


Ko
Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati dijalan ya dwi.


Ki
Iya bu, assalamualaikum


Ko
Wa’alaikumsalam..